Bangsaku

Aku ingin agar Indonesia dikenal orang. Aku ingin memperlihatkan kepada dunia, bagaimana rupa orang Indonesia. Aku ingin menjampaikan kepada dunia, bahwa kami bukan “Bangsa jang pandir” seperti orang Belanda berulang-ulang kali mengatakan kepada kami. Bahwa kami bukan lagi “Inlander goblok hanja baik untuk diludahi” seperti Belanda mengatakan kepada kami berkali-kali. Bahwa kami bukanlah lagi penduduk kelas kambing jang berdjulan menjuruk-njuruk dengan memakai sarung dan ikat-kepala, merangkak-rangkak seperti jang dikehendaki oleh madjikan-madjikan kolonial di masa jang silam. (Soekarno)

Sudah tidak terhitung lagi berapa kali Bung Karno, sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, dalam berbagai pidatonya yang khas menggelegar dan bergemuruh mengingatkan agar bangsa Indonesia jangan mau menjadi “bangsa kuli” dan menjadi kuli bangsa-bangsa lain (a nation of coolies and a coolie amongst nations).

Sebagai daerah asal buruh migran yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor buruh terbesar dunia, maka membandingkannya dengan laporan-laporan tentang keberhasilan pemerintah, jauh panggang dari api.

Negeri ini, belum bisa melepaskan diri dari cemooh Belanda pada kaum pribumi: Bangsa Inlander. 350 tahun bangsa kita dijajah oleh belanda, penjajahan yang begitu lama bukan berarti tidak meninggalkan jejak mental yang telah menjadi watak yang sering ditampilkan sebagai watak kaum terjajah.

Membangun ekonomi rakyat yang kuat dan mandiri sebagaimana harapan founding fathers mungkin hanya mimpi tinggal mimpi. Sumbangan dan reputasi terbesar kita di dunia, hanya penyedia jongos! Propaganda pemerintah tentang kualitas pendidikan, pada akhirnya hanya memproduksi SDM kelas buruh, kelas budak. Duh, bukan salah bunda mengandung.

Komentar

  1. Bagaimana cara agar masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi budak jika kebanyakan pola pikir mereka menginginkan mereka menjadi budak ?
    Apakah mudah merubah pola pikir masyarakat Indonesia ?

    BalasHapus
  2. Lanjutkan di ig @faruqtakdir_ ya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iklan dan Negara

Determinasi Ekonomi

Independensi Etis vs Apologetik