Determinasi Ekonomi
Ekonomi merupakan faktor determinasi terciptanya suatu peradaban
Munif Tobi Trihanto
Opini dari ekonom tersebut dirasa cukup tepat dalam menggambarkan ekonomi yang sesungguhnya banyak merubah fakta lapangan daripada relung-relung peradaban. Perubahan ini masuk ke fakta-fakta pranata sosial, politik, hukum, pendidikan, sampai pada hal-hal yang bersifat transedensial turut dijadikan objek perubahan oleh sang aktor yang bernama ekonomi. Hal-hal yang menjadi sasaran perubahan oleh ekonomi di atas sebenarnya memiliki paradoksnya masing-masing, namun pada kenyataannya paradoks tersebut mencoba untuk dihilangkan sedemikian rupa dan dipaksakan untuk menemui titik rasionalitas tertinggi. Hal ini dilakukan agar semua yang ada dalam pojok suatu ruangan berjalan dalam keharmonisan bersama ekonomi.
Ada semacam jargon yang tak asing ditelinga para pelajar Indonesia mengenai latar belakang invansi bangsa Eropa ke Indonesia, jargon tersebut berbunyi “GOLD, GLORY AND GOSPEL”. Ungkapan tersebut terasa begitu kompleks karena selain mengandung konsep materialis dan politis, ungkapan tersebut juga dibungkus oleh tugas mulia untuk menyebarluaskan agama Nasrani. Aspek-aspek kesucian tersebut ternyata terbukti secara historis di Indonesia melalui populasi ummat Nasrani yang mencapai 23,5 juta di Indonesia. Kemudian dapat kita tarik bahwa doktrin tersebut menyebabkan terjadinya invansi yang meniscayai adanya peperangan.
Isu mengenai wordl war 3 baru-baru ini sedikit mencuri perhatian publik di awal tahun 2020, isu ini diawali dengan serangan drone yang menewaskan jendral besar Iran. Selang beberapa waktu kemudian, Donald Trump mengkonfirmasi serangan tersebut dan mengaku bertanggung jawab atas penyerangan tersebut. Amerika menyebut bahwa pasukan yang dipimpin oleh sang jendral adalah kelompok teroris pada tahun 2019. Pasukan tersebut dinilai bertanggungjawab atas serangan kemanusiaan yang menewaskan ribuan orang di Timur Tengah, dan Trump menganggap Solemani menjadi dalangnya. Sekilas isu yang mencuri perhatian publik di atas seakan akan dilatarbelakangi oleh motif keamanan global, yang sekiranya sang jendral diberikan keleluasaan akan mengganggu stabilitas perdamaian dan keamana dunia, atau semata-mata terdapat ketegangan yang cukup lama antara kedua belah pihak, yang satu sama lain tidak ingin kehilangan reputasinya di mata musuh.
Pada awal 80-an, Amerika sedang gencar mempropagandakan konsep-konsep neoliberalisme ke seluruh permukaan bumi, strategi yang digunakan pun bisa dikatakan cukup terstruktur dan sistematis. Penyebarannya diawali dengan bagaimana konsep ini mampu memeperkuat harkat dan martabat manusia sebagai mahluk merdeka, dengan kata lain, dalam propagandanya, konsep ini menjunjung tingggi atau sangat mendukung tiang-tiang penguatan hak asasi manusia. Tawaran inilah pada mulanya membuat bangsa-bangsa lain sangat antusias dan tertarik pada konsep ini. Setelah itu, dibentuk bagaimana sistem pemerintahan yang ada dalam suatu negara mengikuti kehendak dari sang negara pelopor, apabila pemerintahan yang sedang berkuasa tidak menghendaki hal yang demikian, maka akan dilakukan langkah langkah yang akan mengakibatkan pertumpahan darah. ketika pemerintahan sudah berjalan sesuai apa yang dikehendaki oleh Amerika, dari sinilah awal mula liberalisasi suatu negara dijalankan. Selain itu, dibentuk pula golongan cendikiawan dari negara objek itu sendiri, lagi lagi untuk melanggengkan propaganda di awal.
Dalam catatan sejarah, sebagian besar negara timur tengah sebagai objek kepentingan amerika karena menyimpan cadangan minyak yang begitu besar telah termakan janji manis pelopor liberalisme. Ada beberapa saja yang masih tetap bertahan itupun di bawah bayang-bayang serangan Amerika. Iran pada dewasa ini setelah eksploitasi besar besaran yang dilakukan di kawasan timur tengah masih menyimpan cadangan minyak yang sangat tinggi. Hal inilah yang kemudian menjadikan amerika begitu berambisi atas penguasaan tanah iran. Namun Iran tak serta merta patuh atas janji manis amerika yang tujuannya hanya untuk hegemoni akumulasi kapital. Contoh peristiwa di atas merupakan gambaran bagaimana determinasi ekonomi terhad politik. Tidak ada ruang lagi yang tersisa bagi doktrin-doktrin ideologi dalam politik, semuanya hanya bermuara bagaimana suatu golongan dapat menguasai akumulasi kapital yang lebih menggunungn (motivasi gold)
Indonesia sejak lama dikenal bangsa luar sebagai bangsa gotong royong, banyak pribahasa-pribahasa yang diperkenalkan mengenai semangat gotong royong kepada generasi penerus pada masa awal pendidikan dasar. Pribahasa itu antara lain salah satunya berbunyi “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul” mengisyaratkan semangat kebersamaan bangsa Indonesia yang begitu mendarah daging. Bentuk praktis dari semangat ini bisa kita lihat pada kerja-kerja bakti yang hamper pasti ada di hari minggu. Instrument sosial yang ada dalam masyarakat melebur menjadi satu dalam kegiatan tersebut. Namun kenyataan seperti itu harus pudar dan hilang sama sekali bersama dengan majunya sang waktu. Keindahan dari kebersamaan gotong royong saat ini sangat jarang kita jumpai, jika ada gotong royong itu hanyalah suatu realitas sosial yang ada di bawah atap korporasi tertentu.
Kenyataan di atas bisa kita analisis menggunakan tiga macam sistem pembagian kerja. Mungkin system pembagian kerja yang dianut oleh bangsa Indonesia dulu saat semangat gotong royong begitu tebal dan tinggi adalah pembagian kerja berdasarkan kekerabatan. Namun untuk saat ini, sistem kerja yang digunakan adalah sistem kerja berdasarkan kepemilikan alat-alat produksi kapitalisme. Dengan singkat, seorang akan bekerja dan mencurahkan tenaga yang dimiliki apabila ia mendapatkan laba atas apa yang ia curahkan. Secara tidak langsung tawaran-tawaran mengenai individualisme yang diturunkan dari semangat kapitalisme diterima dengan luwes oleh bangsa Indonesia. Kemudian penerimaan tawaran itu berlanjut pada ranah sistem kepemilikan formal absolut yang menjadi ciri dari kepemilikan sistem kapitalisme. Pada dewasa ini kepemilikan yang sifatnya dipayungi hukum menjadi syarat mutlak berlangsungnya kehidupan selanjutnya. Lihat saja bagaimana dua orang bersaudara memulai bisnis barunya, mereka akan membuat sebuah perjanjian hitam di atas putih untuk menjamin haknya atas bisnis yang akan dimulai. Mereka tidak memulai bisnis bersama karena mereka memiliki satu jenis darah yang mengalir dalam tubuh mereka, namun mereka memulainya karena satu sama lain memliki kapital dan sama- sama didorong untuk medapatkan laba. Untuk kedua kalinya dalam satu artikel sederhana ini kita mendapatkan determinasi ekonomi.
Pada sisi hukum, ekonomi memainkan determinasinya untuk melegitimasi segala upaya dalam penumpukan kapital. Lembaga legislatif biasanya menjadi lembaga yang paling mudah dijangkau dan memberikan dampak besar bagi para kapitalis. Kapitalis rela mengeluarkan cost yang tidak sedikit untuk menumpulkan rasio lembaga legislatif, membentuk suatu legitimasi yang seringkali semacam perebutan kedaulatan suatu negara. Sesaat sebelum revolusi industri di Inggris, dua hukum baru tentang kepemilikan (the bill of reform of tranfomatin dan poor law amandement) dikeluarkan oleh lembaga legislatifnya. Dua hukum kepemilikan ini berisi tentang klaim sepihak orang-orang yang dekat dengan legislatif atas sebidang tanah yang sejatinya telah dikelola oleh para petani selama berpuluh-puluh tahun. Setelah itu para petani yang telah kehilangan lahannya tidak diberikan lagi jaminan-jaminan sosial yang telah menaunginya sejak lama. Maka tidak ada pilihan lain bagi orang-orang malang ini selain menjual satu-satunya yang tersisa dari dirinya yaitu tenaga yang tersimpan dalam jasadnya. Atau bisa dikatakan dalam singkatnya sebagai pelepasan petani dari apa yang bisa membuatnya tetap hidup.
Untuk urusan yang bersifat transedensial (agama), ekonomi juga memainkan perannya sebagai huruf vokal perubahan. Telah diketahui secara umum bahwa baginda nabi Muhammad SAW. ketika baru saja singgah di kota Madinah, hal yang pertama dilakukan setelah membangun masjid adalah membangun pasar dan pembangunannya dilaksanakan di samping kuburan. Hal yang demikian dimaksudkan agar para penjual apabila hendak melakukan kecurangan, mereka tidak sulit untuk melihat kuburan yang berada di samping pasar untuk kemudian mengingat kematian. Dalam situasi seperti ini bisa disimpulkan bahwa tidak ada dikotomi secara khusus antara agama dan ekonomi. Justru hal-hal yang berkaitan dengan agama yang akan membawa ummat kepada rasionalisme beragama. Keadaan di atas mungkin cukup berbalik dengan kenyataan hari ini. Dewasa ini ummat islam menganggap ekonomi sebagai hal yang bertolak belakang dengan agama, dalam artian ummat islam diizinkan untuk mencari rizki namun tidak lagi dibungkus dengan hal-hal keruhanian. Kenyataan lain juga bisa kita lihat dalam diskusi-diskusi keagamaan yang diadakan di masjid. Jarang sekali ada tema-tema yang menyinggung masalah keekonomian, bahkan jika ada masyarakat sekitar menganggap bahwa pembahasan seperti itu merupakan pembahasan yang tidak lazim didiskusikan dalam forum masjid. Padahal agama berfungsi sebagai batu pijakan filosofis segala jalan dalam kehidupan agar sesuai dengan nilai-Nya. Namun kenyataan di atas mungkin dapat kita telaah dari persfektif marx mengenai kapitalisme, yang menurutnya menerapkan sistem kapitalisme sama dengan melepaskan banteng galak di tengah kerumunan orang banyak, dimana banteng tersebut akan melukai sebagian besar orang yang tak kuat untuk menjauh darinya. Hal inilah yang kemudian menurut penulis dianggap sebagai kekejaman yang gagal diatasi oleh stake-holder ummat islam kemudian muncul ke permukaan sebagai sifat keengganan dalam upaya untuk menemukan problem solving-nya.
Determinasi ekonomi dalam pendidikan lebih dahulu lagi daripada determinasinya dalam hubungan Amerika-Iran yang bermotif “gold”. Sejak lama sistem kapitalisme berusaha menciptakan golongan-golongan baru dalam dalam akumulasi kapitalnya. Golongan baru ini diharapkan nantinya mampu sebagai penopang proses terkonsentrasinya kapital di tangan segelintir orang saja. Mengapa sebagai penopang?. Para kapitalis sejatinya tak hanya menanamkan kapitalnya pada satu sisi industri, mereka akan mencari sisi industri mana yang mampu lebih cepat menggandakan total kapitalnya, karena motivasi sistem kapitalisme adalah mencari laba. Apabila pencarian laba dapat dilakukan dengan cara mendatangi para dukun, maka kapitalis akan melakukannya. Pada masa pencarian sisi insdustri lain inilah kapitalis perlu orang mahir untuk memfokuskan diri pada sisi industri lain. Dan karena itu bermunculan-lah jurusan jurusan baru dalam perguruan tinggi.Selain itu, ada sebuah ironi dalam perguruan tinggi khususnya yang berfokus pada bidang ekonomi dimana materi-materi yang disajikan hanya bersifat normatif nan fromalitas, yang mengabaikan seluruh fakta yang ada mengenai determinasi ekonomi. Sebagai mana yang telah kita bahas pada paragraf sebelumnya, orang-orang yang mengkonsentrasikan dirinya untuk mempelajari ekonomi juga dituntut agar tidak mengabaikan dirinya dari sesuatu yang dideterminasi oleh apa yang dipelajari. Apabila diteruskan, maka akan menghasilkan apa yang Marx sebut sebagai ekonom vulgar.
Komentar
Posting Komentar