Independensi Etis vs Apologetik

Apologetik merupakan suatu sikap untuk mempertahankan ajaran yang bersifat suci. Kesucian ini membuat penganutnya enggan untuk mengkritisi ajarannya sendiri. Merasa benar dan tidak perlu berpikir lebih dalam terhadap segala hal karena menurutnya semua telah termuat dalam ajaran. Pada akhirnya anggapan ini membuat orang terdunduk lesu atas hal buruk yang diterimanya, tidak ingin membuat sebuah konsep problem solving bagi dirinya apalagi orang lain 

Bisa dikatakan bahwa anggapan ini sebenarnya cukup kolot, karena anggapan ini sesungguhnya telah ada dalam benak orang-orang pada zaman lampau. Bisa kita lihat peradaban Islam yang mengalami stagnasi bahkan kemunduran di masa setelah kejayaannya. Ummat Islam merasa puas dengan kejayaannya yang telah diraih, sehingga membuat mereka terus menerus berbangga dan ber euforia kegirangan. Di sela-sela kegirangannya, mereka lupa dengan perubahan selanjutnya dan terkubur oleh dirinya sendiri. Pada masa ini sesungguhnya kegirangan-kegirangan ini masih terus berlanjut. Implikasi jelasnya adalah tidak adanya ibnu Rusyd yang baru, yang mampu memberi pijakan ilmuwan barat dalam berkarya. 

Sebuah kontemplasi yang menyakitkan ketika kita menyadari bahwa independensi etis larut dalam hal-hal yang bersifat apologetik. Dua hal ini mestinya menjadi sesuatu yang berlawanan arah satu sama lain. Namun karena ketidaksadaran atau karena kesengajaan dua hal ini melebur dalam satu kesatuan. Sikap ini biasanya muncul pada pribadi yang kurang sempurna dalam memahami makna independensi etis seutuhnya. Berpegang teguh pada kemerdekaan diri sendiri untuk memilih kebenaran dan enggan untuk menerima kebenaran yang diusung oleh individu lain, kelompok lain, kaum lain, “warna” lain ataupun kabilah lain. Apabila dipikirkan lebih jauh bentuk apologetik baru ini cukup sulit untuk ditangani, karena  jenis ini telah melalui proses delik yang dirangkum dalam independensi etis. 

Hal paling fundamental yang diberikan Tuhan Maha Esa nan Universal adalah fitrah. Fitrah ini menjadikan manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat sesuatu yang bersifat suci. Adapun independensi etis atau kemerdekaan untuk memilih kebenaran adalah instrumen yang terdapat pada fitrah tersebut. Kemerdekaan dalam memilih kemerdekaan ini diberikan Tuhan karena tak ada kebenaran yang mutlak kecuali yang berasal dariNya. Dalam kebebasan ini artinya manusia dapat lebih leluasa untuk menginterpretasikan makna dari nilai-nilai universal Tuhan, tidak terjebak pada satu kebenaran semu dan jemu. 
Menurut Habermas, kebenaran sesungguhnya bisa bersumber atau datang dari sisi manapun. Rasio, fakta empiris dan intuisi merupakan sedikit dari banyak sumber kebenaran. Untuk itu tidak boleh orang mengklaim bahwa kebenaran hanya datang dari dirinya, karena tidak menutup kemungkinan orang itu menilai kebenaran dari satu sisi. Dan untuk itu pula diperlukan suatu bentuk komunikasi dalam menjembatani kebenaran-kebenaran tersebut, selangkah lebih maju dari kebenaran satu sisi. Hal ini kemudian kurang lebih menurut hemat penulis disebut sebagai teori rasionalitas komunikatif, keadaan dimana rasio seorang menggugat rasionya sendiri (tindakannya dalam mengkomunikasikan kebenaran adalah menggugat).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iklan dan Negara

Determinasi Ekonomi